CARUT MARUT INDONESIA DAN DOSA PENDIDIKAN

Posted: 20 Agustus 2011 in Tak Berkategori


Bangsa ini baru saja memperingati 66 tahun kemerdekaannya. Riuh rendah semangat perayaan masih terasa saat ini, sekalipun dalam suasana bulan Ramadhan 1432 H. Antusiasme masyarakat tidak pudar demi bergembira karena negeri ini pernah menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1945. Namun, seperti halnya ketika manusia minum air putih  dingin maka rasa haus terobati, lalu seiring dengan berjalannya waktu dan berbagai aktivitas manusia akan kembali haus, dan minum lagi. Suasana heroik yang terasa ketika merayakan agustusan akan meredup seiring dengan berbagai macam persoalan bangsa yang muncul bertubi-tubi, dan tentu saja pada tahun depan keheroikan akan bergema kembali pada pertengahan bulan Agustus. Mengapa keheroikan tidak terpatri secara permanen di dalam manusiaIndonesia, sehingga setiap hari kita selalu semangat dan bangga menjadi bagianIndonesia. Kenyataan yang ada justru sebaliknya, suasana heroik atau semangat nasionalisme sulit ditemukan, bahkan dari kalangan elit negeri ini sekalipun. Ironisnya, bukannya membangkitkan semangat nasionalisme, malah mereka mempertontonkan degradasi moral dan menambah masalah bagi carut marutnyaIndonesia.

 

Berbagai persoalan di negeri ini seakan-akan tidak mau selesai. Beberapa persoalan yang terjadi dewasa ini di Indonesia di antaranya adalah korupsi, kolusi, nepotisme, kualitas sumberdaya manusia, buruh, pengangguran, kriminalitas, transportasi, lingkungan hidup, kewilayahan, politik, otonomi daerah, kemiskinan, manajemen pemerintahan, dominasi kaum borjuis, pemukiman, eksploitasi sumberdaya alam, transparansi, gesekan emosi warga, partisipasi pajak, agama, distribusi penduduk, bencana alam dan pendidikan.

 

Tidak perlu dijelaskan disini bagaimana bentuk-bentuk persoalan tersebut, karena rakyatIndonesiasudah sangat memahami berbagai persoalan tersebut bahkan menjadi buah bibir sehari-hari, yang meraka pelajari melalui media cetak dan elektronik. Tidak terbantahkan bahwa berbagai personalan di negeri ini subjeknya adalah manusiaIndonesia.

 

Sesungguhnya berbagai persoalan yang subjeknya manusia Indonesiatdak dapat dilepaskan dari peran pendidikan. “The function of education is to teach one to think intensively and to think critically… Intelligence plus character – that is the goal of true education”, demikian kata Martin Luther King, Jr., seorang nasionalis Amerika. Penulis meyakini selama pendidikan diIndonesia belum membaik maka berbagai persoalan bangsa ini juga tidak akan membaik. Masalah pendidikan yang tidak terselesaikan menjadi dosa tersendiri bagi pemangku kepentingan pendidikan diIndonesia.

Tidak sedikit kalangan praktisi pendidikan baik guru maupun dosen yang pesimis akan penyelesaian masalah pendidikan. Mereka memandang selama sistem pendidikan dibuat rumit oleh pemerintah maka akan membuat persoalan di lapangan. Yang menjadi dosa pendidikan di antaranya Angka Partisipasi Kasar (APK) di jenjang SMA/SMK yang saat ini baru pada kisaran 60 sampai 63, artinya masih sekitar 40% penduduk usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan sampai jenjang tersebut. Masalah lain di antaranya adalah pemerataan kesempatan pendidikan. Masih sering kita mendengar daerah-daerah yang minim keterjangkauan fasilitas pendidikannya, belum lagi kondisi fasilitas pendidikan yang belum layak. Hal tersebut bukan hanya terjadi di pelosok-pelosok, bahkan di kota-kota besar pun masalah tersebut masih terjadi. Masih terjadi seorang anak harus pulang dulu ke rumah hanya untuk buang air, karena kondisi WC yang tidak memadai bahkan tidak ada di sebuah Sekolah Dasar di sebuahkotabesar. Padahal WC adalah fasilitas untuk kebutuhan dasar peserta didik. Hal ini terjadi karena pemangku kepentingan pendidikan hanya memprioritaskan ketersedian ruang kelas saja. Fasilitas pendidikan dasar yang memadai saat ini sangat mendesak, karena berdasarkan data Biro Pusat Statistik saat ini 69 juta penduduk Indonesia berada ada kisaran usia 0-14 tahun atau 29% dari jumlah penduduk Indonesia.

Tidak kalah pentingnya adalah masalah distribusi tenaga pendidik yang terkonsentrasi di kota-kota besar. Masih banyak sekolah-sekolah di daerah yang kekurangan guru mata pelajaran tertentu. Hal ini secara nasional bukan karena jumlah guru yang kurang, tetapi masalah distibusi guru yang tersandera oleh otonomi daerah. Masih berkaitan dengan tenaga pendidik adalah masalah peningkatan kualitas guru guna mensejajarkan pendidikan kita dengan negara-negara tetangga. Nampaknya pemangku kepentingan pendidikan belum melihat hal ini sebagai sesuatu yang penting. Hal ini terlihat dengan minimnya fasilitas pengembangan diri guru baik di sekolah maupun di luar sekolah. Pelatihan-pelatihan cenderung sekedar menggunakan anggaran saja, tidak untuk mencapai tujuan ideal pengembangan diri guru. Sekolah-sekolah melihat investasi yang penting adalah yang berwujud dan instant, seperti ruang kelas, mebelair, dan lain-lain. Investasi dalam bentuk pengembangan diri guru dianggap tidak penting karena tidak terlihat secara kasat mata. Hal ini lumrah terjadi karena pemerintah dan masyarakat memberikan penilaian tinggi bagi sekolah dengan fasilitas lengkap, bukan karena kualitas guru yang baik. Selain itu rendahnya motivasi guru pada pengembangan diri karena karir yang stagnan. Justru yang terjadi adalah pemerintah melalui penerbitan peraturan pemerintah dan  peraturan menteri pendidikan nasional cenderung membebani guru dalam hal administrasi. Buktinya, untuk memberikan fasilitas tunjangan profesi  saja sungguh sangat berbelit-belit, berbeda dengan proses renumerasi di kalangan TNI/Polri dan PNS di departemen/lembaga negara yang sangat mudah dan tidak berbelit-belit. Padahal sangat jelas instrumen untuk mengakui profesionalitas guru, yaitu sertifikat akta yang dikeluarkan oleh LPTK yang dimiliki oleh setiap guru. Ironisnya malah LPTK mengabaikan sertifikat akta yang telah mereka keluarkan karena terbuai dengan proyek sertifikasi guru.

Masalah lain dalam dunia pendidikan adalah kurikulum yang acak-acakan. Pemerintah menetapkan standar isi dengan seabrek mata pelajaran, kemudian sekolah dituntut mengembangkan kurikulum sendiri bebasis standar isi yang telah ditetapkan. Persoalan terjadi ketika sekolah tidak memiliki kapasitas untuk mengembangkan kurikulum sendiri karena berbagai keterbatasan, terutama fasilitas dan sumberdaya manusia. Akhirnya adalah fenomena copy paste terjadi pada penyusunan kurikulum. Selain itu, karena beban mata pelajaran, keterbatasan fasilitas, keterbatasan biaya, dan ujian nasional, membuat sekolah mengalami kesulitan melakukan improvisasi dalam kurikulumnya.

Masih banyak persoalan pendidikan di negeri ini, tetapi untuk memperkecil dosa pendidikan terhadap carut marutnya Indonesia adalah dengan melaksanakan program pendidikan yang mampu membentuk manusia Indonesia yang penuh percaya diri dan memiliki kapasitas karakter nasionalisme tinggi. Untuk mencapai hasil tersebut maka pemerintah sebaiknya melaksanakan revitalisasi pendidikan nasional, dengan cara menyederhanakan peraturan-peraturan yang menyangkut pendidikan, mengembalikan kurikulum menjadi kurikulum nasional, mengelola distribusi guru secara nasional, menyusun program diklat berkelanjutan bagi guru, memperjelas karir guru hingga ke jenjang yang lebih tinggi, melaksanakan standarisasi fasilitas pendidikan, mempermudah keterjangkauan fasiltas pendidikan di daerah-daerah terpencil, memperkuat paradigma wiyatamandala di sekolah, mengeliminir lembaga-lembaga bimbingan belajar karena menambah kerancuan sistem pendidikan nasional, memperkuat peran komunitas guru mata pelajaran,  dan mengembangkan prinsip transparansi dalam pengelolaan anggaran.

 

Ketika proses pendidikan mengalami perbaikan secara signifikan maka sangat mungkin lembaga pendidikan menghasilkan lulusan yang berilmu, bermoral, dan percaya diri. Pada gilirannya lulusan yang kemudian menjadi pelaku kebijakan di tengah masyarakat akan memliki integritas tinggi dan tentu saja akan menyelesaikan masalah carut marut bangsa ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s