DARI RADIO MARA PAGI INI

Posted: 7 Oktober 2008 in 1

Dalam perjalanan menuju sekolah (dalam rangka menunaikan tugas piket libur lebaran), seperti biasanya saya selalu mendengarkan radio Mara yang biasanya dipandu oleh Om Ben. Acara ini memang menjadi sarapan pagi saya setiap hari. Pagi ini kembali meluncur dialog dengan penelepon dengan aneka tema, salah satunya adalah mengenai biaya pendidikan yang bermuara pada sorotan terhadap guru.

Ada penelpon (orang tua siswa salah satu SD di Bandung) “mengadu” bahwa beliau masih dipungut biaya padahal sekolah tersebut sudah memperoleh dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Saya ingin sekali nimbrung dalam pembicaraan itu, tetapi selalu tidak bisa masuk (saking banyaknya penelpon, mungkin). Tadinya kalau saya bisa nimbrung, saya akan mengatakan bahwa saya (guru SMA) juga memiliki anak yang masih bersekolah di SD Pelesiran 2 Kecamatan Coblong Kota Bandung. sampai detik ini saya belum pernah diminta pembayaran dalam bentuk apapun. Saya juga tahu bahwa ada sekolah negeri yang lain masih memungut iuran bulanan (SPP), tetapi rasanya tidak perlu diributkan, karena unit cost setiap sekolah itu berbeda. ALHAMDULILLAH SD tempat anak saya sekolah unit cost-nya sudah tercover oleh dana BOS, sementara SD tempat anak ibu tadi (penelpon tea) unit cost-nya tidak 100% dapat tercover oleh dana BOS. Mungkin bisa dianalogikan ketika kita naik bis kota, jika bis kota non-ac maka kita bayarnya kecil, tetapi jika bis kota dengan ac maka bayarannya akan lebih mahal. Artinya, semuanya dikembalikan kepada orang tua siswa, mau pilih yang mana. Apakah mengikuti gengsi orang tua sehingga sekolah di SD dengan fasilitas bagus atau sekolah di  SD yang biasa saja. Kalau sekolah di SD dengan fasilitas bagus, JANGAN MINTA BEBAS BIAYA DONG, maluuuuu tau.

Trus, ada lagi penelpon (laki2) yang mengungkapkan uneg-unegnya yang “sirik” ketika melihat penghidupan guru membaik (mungkin lebih baik daripada dirinya), sehingga muncul kecurigaan, jangan-jangan menggunakan dana yang dipungut dari orang tua siswa (SPP/DSP). Dalam hal ini pun saya merasa terpanggil untuk ikut nimbrung, tetapi sekali lagi gagal masuk ke line telepon radio Mara. Dan jika seandainya saya bisa masuk, maka saya akan mengatakan sama dengan apa yang dikatakan Om Ben (penyiar tea) bahwa “apakah kita akan selalu menginginkan guru harus miskin”. Memang betul om Ben, citra guru dari dulu hingga sekarang selalu dipandang harus terbelakang, caludih, pakaian lusuh, jalan kali/pakai sepeda, sebagaimana Iwan Fals mendeskripsikan “Oemar Bakri”. Sehingga, ketika melihat kehidupan guru lebih baik maka masyarakat dengan cepat memfitnah dan cenderung memvonis, tanpa memberikan kesempatan kepada guru untuk mengklarifikasi. Terlebih sekarang ini para politisi gencar mengkampanyekan “pendidikan gratis” (kencing aja sarebu, sekarang mah), lantas diserap oleh masyarakat awam (sebagian besar rakyat Indonesia) yang mau-maunya dibodohin dengan jargon-jargon yang mustahil. Oleh karena itu saya mau mengatakan kepada bapak tadi (penelpon “sirik”) bahwa selama ini guru memang mendapat incentif berdasarkan kinerjanya (satuannya adalah jumlah jam mengajar tatap muka dalam satu minggu). Jumlah jam mengajar setiap guru berbeda-beda setiap guru, oleh karena itu supaya tidak sisirikan antara guru yang jam mengajarnya banyak dengan guru yang jam mengajarnya sedikit. Contohnya mungkin saya ilustrasikan sebagai berikut : guru A memiliki jumlah jam mengajar 8 jam dalam seminggu, guru B jumlah jam mengajarnya 20, maka perhitungan incentifnya adalah guru A memperoleh 8 x sekian rupiah (tidak dikalikan dengan jumlah minggudalam bulan tersebut) dan guru B memperoleh 20 x sekian rupiah. Sekian rupiah-nya tidak sama untuk setiap sekolah, tetapi biasanya berkisar Rp 2000,- sampai Rp 17.500,-. Jadi pak penelpon, kita andaikan sekian rupiahnya adalah Rp 10.000,-, maka guru A akan memperoleh Rp 80.000,- dan guru B akan memperoleh Rp 200.000,- setiap bulan. Dan perlu bapak ketahui bahwa jam mengajar tertinggi adalah 30 jam. Jadi itulah “dana lebih” yang bisa diperoleh guru selama ini. Anda bisa bayangkan, dengan uang Rp 80.000,- saat ini dapat dipakai untuk apa ? Jika dalam satu hari pulang pergi ke sekolah guru tersebut menggunakan sepeda motor dan mengkonsumsi BBM rata-rata  satu liter setiap hari maka 24 hari x Rp 6000 = Rp 144.000,-.  Mungkin inilah pencerahan untuk masyarakat awam, bagi yang mau tahu.

Besok saya akan coba nelpon ke radio Mara dan ikut diskusi dengan om Ben. Mudah-mudahan bisa masuk. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s